Tempat Ini Jadi ‘Eksekusi Mati’ Mobil yang Tak Terurus

Jakarta – Mobil-mobil berjejer parkir tak beraturan, bahkan bisa dipastikan hampir ratusan jumlahnya dalam kondisi rusak. Mulai dari ban kempis hingga beberapa bagian kaca mobil pecah. Selain itu ada beberapa kendaraan yang sudah berkarat dan hanya menyisakan beberapa potongan saja.

Yap, parkiran itu merupakan tempat eksekusi mati untuk mobil yang tidak terurus tuannya, detikoto menyambanginya berada di Jl. Parung Raya No. 120, Bojongsari, Depok. Kebanyakan yang bermukim di sana memang berasal dari Madura, yang sudah terkenal sebagai pebisnis besi tua di Indonesia.

Tidak hanya mobil tua, lapak tersebut juga diisi dengan kendaraan bekas kecelakaan lalu lintas.

Rossi, salah satu pelapak mengungkapkan untuk mendapatkan mobil dengan label tua dan bekas kecelakaan, dapat dipastikan harganya akan jauh lebih murah. Dari bisnis ini ia mendapatkan keuntungan dengan menjual berbagai jenis onderdil copotan dari mobil rongsokan itu.

“Mobil Mazda tahun 1991 saya dapat cuman 4 juta, kondisi masih lumayan saat itu, cuman surat surat pada mati, kalau dijual di pasaran mungkin masih dapat 6-10 jutaan,” katanya kepada Detikoto.

“Mobil bekas kecelakaan juga ada, itu chevrolet tapi bukan milik saya, kebanyakan orang mitosnya kalau habis kecelakaan mobilnya ndak bagus untuk dipakai lagi,” ungkap Rossi.

Nantinya mobil-mobil tersebut akan dipreteli satu per satu bagian komponennya, seperti panel, pintu, bumper, dan lampu-lampu. Sementara untuk bagian kaki-kaki mobil dan chassis, akan dipotong bila tidak laku. Tetapi tidak menutup kemungkinan akan di jual secara utuh.

“Saya akan jual kalau ada yang minat, kalau dipotong-potong nanti kalau ada yang pesan, memang untung lebih banyak jual komponen satu per satu, tapi bila modal sudah balik sekitar Rp 1,5 Juta, bisa juga kita potong buat dikiloin,” katanya kepada Detikoto.

“Kalau salah perhitungan bisa tekor nanti,” tambahnya.

Hafifi, salah satu pemilik lapak mengatakan meski terkesan kotor, nyatanya bisnis ini cukup untuk menghidupi keluarga. “Dibilang untung besar juga tidak, karena kan naik turun, tapi cukuplah untuk biaya hidup saya sama keluarga,” katanya kepada Detikoto.

Bisa dikatakan bisnis seperti ini menjawab pertanyaan kemana muara akhir mobil tua. Pasalnya penjualan mobil baru di dalam negeri ratusan ribu unit per tahun, serta tidak ada pembatasan usia pakai mobil. Apalagi di Indonesia sendiri belum ada fasilitas recycle mobil tua seperti di negara maju. (lth/lth)