RI Bakal Jadi Pemain Utama Mobil Konvensional dan Listrik

Jakarta

[Gambas:Video 20detik]

Sebuah perusahaan konsultasi manajemen global yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat, AT Kearny menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam dunia otomotif. Berdasarkan penelitiannya, bila seluruh potensi di Tanah Air dimanfaatkan dengan baik, pada tahun 2030 Indonesia sangat mampu menjadi pemain utama untuk mobil konvensional dan elektrik (EV).

Berdasarkan hal tersebut, Indonesia langsung ambil tindakan dan melakukan berbagai percepatan di sektor otomotif. Begitulah yang dikatakan oleh Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (Ditjen ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Putu Juli Ardika, di acara Forum Diskusi Kendaraan Listrik bersama detikcom dan CNN Indonesia, di Jakarta, Kamis (4/10/2018).



“sektor otomotif sangat penting bagi Indonesia. Penyumbang PDB terbesar nomor dua adalah dari otomotif. Namun peforma sekarang belum maksimal, Indonesia masih punya potensi yang sangat besar misalkan rata-rata kepemilikan kendaraan yang masih 87 unit per-1.000 penduduk. Ini naik sedikit saja sudah besar,” kata Putu.

“AT Kearny juga mengatakan, berdasarkan kajiannya Indonesia pada tahun 2030 akan menjadi pemain utama di produksi dan ekspor kendaraan konvensional (bermesin ICE atau Internal Combustion Engine) maupun pada Electrified Vehicle (EV). Ini yang menjadi salah satu champion kita dalam program Making Indonesia 4.0,” lanjutnya.

Jadi, kalau seluruh potensi yang Indonesia miliki maka negeri ini tak hanya menjadi konsumen atau penonton saja. “Tapi kita bisa jadi pelaku utama sekaligus pemasok ekspor,” ungkap Putu.

Making Indonesia 4.0 ialah sebuah roadmap (peta jalan) yang sudah dirancang oleh Kementerian Perindustrian untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industry 4.0. Guna mencapai sasaran tersebut, langkah kolaboratif ini perlu melibatkan beberapa pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga unsur akademisi.

Dalam mencapai hal tersebut sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era Industry 4.0. Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Berdasarkan Global Competitiveness Report 2017, posisi daya saing Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 100 negara. Naik sebesar 5 peringkat dibanding dua tahun sebelumnya.

Menperin juga menyampaikan, semua negara masih mempelajari implementasi sistem Industry 4.0, sehingga dengan penyiapan peta jalannya, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci di Asia. “Kita melihat banyak negara, baik yang maju maupun berkembang, telah menyerap pergerakan ini ke agenda nasional mereka dalam rangka merevolusi strategi industrinya agar semakin berdaya saing global. Dan, Indonesia siap untuk mengimplementasikan,” ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (ruk/ddn)