Emisi Masih Euro2, Esemka Harus Diuji Ulang

Jakarta – Menjelang produksi massal, Esemka sudah melengkapi berbagai dokumen standar kelayakan kendaraan bermotor. Namun dari 8 tipe yang terdaftar, hanya 2 kendaraan saja yang sudah standar Euro4.

Akibatnya, 6 tipe kendaraan Esemka harus dilakukan uji emisi ulang. Dikatakan Kementerian Perindustrian lewat Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, pengujian emisi Esemka waktu itu masih menggunakan standar Euro2, bukan Euro4.

“Penerbitan TPT untuk 6 tipe kendaraan bermotor PT Solo Manufaktur Kreasi (PT. SMK) dilakukan di kisaran Juli-Agustus 2017, dimana saat itu pengujian emisi masih menggunakan standar Euro2. Dengan diberlakukannya standar Euro 4 per Oktober 2018, maka kendaraan bermotor PT SMK tersebut harus diuji ulang di Kemenhub dengan standar emisi Euro4,” katanya kepada detikOto di Jakarta.

“Terkait detil uji emisi merupakan kewenangan dari Kemenhub,” lanjutnya.

Sayang Putu tidak mengatakan secara detil tipe kendaraan Esemka apa saja yang telah lolos uji emisi Euro4. Untuk prosedur penerbitan Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) Produksi Kendaraan Bermotor sendiri ada empat tahap. Pertama industri harus mengajukan permohonan Uji Tipe ke Kemenhub selanjutnya setelah melalui proses uji, industri akan mendapatkan Sertifikat Uji Tipe (SUT).

SUT ini nantinya akan digunakan sebagai salah satu dokumen persyaratan untuk mendapatkan TPT Produksi dari Kemenperin. Kemudian, TPT Produksi akan digunakan sebagai dokumen dalam mendapatkan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) dimana STNK dan BPKB bisa diterbitkan.

Esemka sendiri pada 2012 lalu dinyatakan lulus uji emisi setelah 2 kali gagal tes oleh Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) BPPT Serpong.

Esemka tercatat memiliki delapan tipe mobil yang sudah didaftarkan, diantaranya dua mobil penumpang, empat kendaraan angkutan barang bak terbuka, satu mini bus, dan satu kendaraan angkutan kabin ganda. Semua mobil masih menggunakan transmisi manual.

Berikut daftarnya:
-Garuda I 2.0 (4×4) MT : Mobil penumpang bukan sedan : BBM Solar.
-Bima 1.3 L (4×2) M/T : Mobil barang bak muatan terbuka : BBM Bensin.
-Bima 1.0 (4×2) M/T : Mobil barang bak muatan terbuka : BBM Bensin.
-Niaga 1.0 (4×2) M/T : Mobil penumpang : BBM Bensin.
-Bima 1.8D (4×2) M/T : Mobil barang bak muatan terbuka : BBM Solar.
-Bima 1.3 (4×2) M/T : Mobil barang bak muatan terbuka : BBM Bensin.
-Borneo 2.7D (4×2) M/T : Mobil bus : BBM Solar.
-Digdaya 2.0 (4×2) M/T : Mobil barang bak muatan terbuka kabin ganda : BBM Solar.

Sebelumnya Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo mengingatkan agar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilibatkan, karena berkat mereka mobil itu bisa eksis.

“Yang penting lulusan SMK jangan ditinggal. Mereka harus dilibatkan dalam produksi,” kata Rudy saat ditemui wartawan di Balai Kota Surakarta, Jumat (5/10/2018).

Menurutnya, SMK merupakan cikal bakal munculnya mobil Esemka pertama kali. Rudy bersama Wali Kota Surakarta saat itu, Joko Widodo merupakan tokoh yang memperjuangkan agar Esemka bisa diproduksi massal.

Joko Widodo mengantarkan Esemka uji emisi ke Serpong beberapa tahun laluJoko Widodo mengantarkan Esemka uji emisi ke Serpong lalu Foto: Rachman Haryanto

Perusahaan produsen Esemka nantinya diminta menyiapkan pusat pelatihan khusus lulusan SMK untuk mempelajari Esemka. Baru setelah itu mereka bisa bekerja di pabrik.

“Training center harus ada, minimal tiga bulan. Setelah penggodokan, baru mereka bisa masuk bekerja,” katanya.

Selain itu, Rudy juga berharap agar Esemka dapat menjadi mobil rakyat yang harganya terjangkau. Meski demikian, mobil harus tetap berkualitas.

“Local content kalau bisa 80 persen pasti harganya lebih murah. Tapi kualitasnya harus tetap bagus, jangan kalah dengan mobil buatan Jepang,” ujar dia. (ruk/ddn)