Alam yang Sakit dan Akal Budi

JawaPos.com – Pasca pertemuan IMF yang berlangsung di Bali pada 8-14 Oktober 2018, perlu disorot beberapa hal terkait dengan capaian dari pertemuan internasional tersebut. Salah satu yang dianggap sebagai kesuksesan penyelenggaraan acara tersebut adalah didapatkannya perjanjian investasi yang dianggap menguntungkan Indonesia.

Investasi itu diestimasikan mencapai Rp 202,5 triliun.

Alam yang Sakit dan Akal BudiIlustrasi: Perubahan iklim berdampak kelangsungan hidup manusia atau alam semesta. (Anam Syahmadani/Radar Tegal/Jawa Pos Group)

Beralih dari gegap gempita kedatangan IMF, mari menengok ke pertemuan lain yang terjadi pada bulan yang sama di Incheon, Korea Selatan.

Pertemuan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) beranggota ilmuwan-ilmuwan atau pakar-pakar dalam bidang perubahan iklim. IPCC merupakan lembaga antar pemerintah anggota PBB yang ditugasi meneliti dan mengumpulkan data ilmiah terkait dengan problem lingkungan.

Hasil pertemuan IPCC di Korea itu akan digunakan sebagai laporan dan rekomendasi yang dibahas para pemimpin dunia pada acara COP24 (Conference of the Parties) yang diselenggarakan PBB pada Desember 2018 di Polandia.

Hasil pertemuan IPCC menggarisbawahi betapa daruratnya problem perubahan iklim yang mengharuskan pengendalian suhu agar tidak melebihi kenaikan 1,5 derajat Celsius. Memang, tampaknya, kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius merupakan angka yang tidak terlalu signifikan. Namun, data-data yang dikumpulkan ilmuwan-ilmuwan itu membuktikan sebaliknya. Bahwa kenaikan suhu akan berdampak sangat besar, baik kepada manusia maupun khususnya satwa-satwa yang keberlangsungannya terancam.

Bagaimana proyeksi perubahan yang bisa terjadi akibat kenaikan suhu tersebut? Sesungguhnya, saat ini perubahan-perubahan itu pun mulai kita alami. Saat ini manusia sedang menjalani kenaikan suhu sampai 1 derajat Celsius.

Kita dapat menyaksikan bencana seperti naiknya permukaan air laut, cuaca ekstrem yang mematikan mulai banjir hingga gelombang panas, serta menghilangnya ekosistem laut.

Para ilmuwan memprediksi, jika suhu terus memanas melampaui kenaikan 1,5 derajat Celsius, kita akan kehilangan 70-90 persen spesies terumbu karang. Terumbu karang itu punah karena air laut yang memanas lantaran menyerap karbondioksida yang kemudian mengakibatkan asidifikasi laut.

Dalam buku The Limits to Growth, para penulis, Donella H. Meadows, Dennis L. Meadows, Jørgen Randers, dan William W. Behrens III, menyajikan data-data dari hasil simulasi komputer yang menunjukkan betapa berbahayanya arah pertumbuhan populasi dan ekonomi dalam kondisi sumber daya bumi yang terbatas.

Buku itu menyebutkan kecenderungan manusia untuk melakukan overshooting atau melampaui batas-batas. Pertumbuhan ekonomi, misalnya, selalu dipandang sebagai kondisi yang positif. Pertumbuhan yang cepat merupakan pertanda geliat ekonomi yang baik.

Di balik pembangunan dan aktivitas ekonomi manusia, kita sering kali abai terhadap konsekuensi pertumbuhan itu. Buku The Limits to Growth menguraikan, gagalnya manusia melihat tindakan melanggar batas-batas kesanggupan dari alam disebabkan adanya keterlambatan persepsi.

Konsekuensi pelanggaran itu tidak langsung dilihat atau dirasakan. Namun, akibatnya bekerja seperti efek gelembung yang lambat laun akhirnya meledak. Pertumbuhan yang terjadi selama 200 tahun sejak Revolusi Industri, yang meliputi kegiatan pertanian, pertambangan, manufaktur, serta transportasi, mengakibatkan jejak ekologis yang membebani daya dukung bumi. Manusia yang memiliki akal budi selayaknya memikul tanggung jawab lebih untuk selalu mencermati tanda-tanda dari alam yang tengah sakit.

Laporan IPCC yang terdiri atas 6.000 studi ilmiah dan dipelajari selama dua tahun terakhir menunjukkan bahwa diperlukan perombakan yang revolusioner. Manusia memiliki lebih dari 12 tahun untuk memutarbalikkan keadaan, untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang tidak dapat dipulihkan kembali (irreversible).

Pemerintah Indonesia seharusnya bisa merebut peluang energi terbarukan, menimbang kondisi wilayah Indonesia yang dilimpahi sumber energi terbarukan seperti air, angin, dan tenaga surya. Tantangan bagi pemerintah Indonesia adalah transformasi sistem meninggalkan ketergantungan pada ekonomi berbasis bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan.

Kini dengan adanya laporan ilmiah para ilmuwan mengenai iklim, serentak dengan bencana-bencana terkait iklim yang semakin menyengsarakan, memaksa kita untuk segera berubah atau mengarah pada kepunahan.

Masyarakat Indonesia sejatinya erat terikat dengan alam. Akar ini merupakan strategi budaya yang patut dikembangkan. Keberadaan masyarakat ulayat yang merawat laut, hutan, danau, dan pegunungan semestinya bisa menjadi inspirasi bahwa keselarasan dengan alam adalah bagian dari jati diri manusia Indonesia. 

(*)

Cara DAFTAR POKER Domino Qiu Qiu Capsa Susun Online Indonesia di Situs Agen Judi Terpercaya Assosiasi Resmi Dewapoker IDN Bank BCA, BNI, BRI dan Mandiri.